Senin, 03 Maret 2014

Uncertainty Life? See The Fusion of Science and GOD

Tiga zona waktu yang gak bisa dihindari dalam perjalanan hidup manusia adalah masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Ketiganya gak bisa dipisahkan karena saling berkesinambungan. Apa yang ada di masa sekarang adalah 'bentukan' dari masa lalu. Semacam pelajaran Sejarah, ya itu penting. Masa lalu yang baik atau mungkin buruk akan menjadi pelajaran yang berharga buat hidup di masa yang baru. Karena waktu terus berjalan dan gak mungkin balik ke belakang (kecuali dalam film-film fiksi atau khayalan semata pas lagi mimpi), melangkah untuk kehidupan selanjutnya itu jauh lebih asik untuk ditekuni daripada terpaku sama masa lalu.

Masa-masa yang paling sulit dijalani yaitu masa peralihan dari masa lalu ke masa sekarang atau masa sekarang ke masa depan. Ketika kita mau melangkah ke depan, ada hal yang harus kita tinggalkan di belakang dan di situlah kita butuh keteguhan hati untuk berani menanggalkan segala yang buruk di masa lalu untuk kehidupan di masa yang baru. Di masa-masa ini juga sebuah fase ketidakpastian dalam hidup akan terjadi. Kenapa? Namanya juga peralihan, antara diam di tempat atau melangkah maju. Kita juga gak tau apa yang akan terjadi di masa depan.


Ngomongin tentang 'ketidakpastian', perkara satu ini sering bikin galau. Hidup berasa diombang-ambing badai kehidupan entah harus bagaimana (*apasih. maaf alay). Seperti dalam sebuah masa penantian sambil mengerjakan sesuatu yang entah bagaimana nanti kelanjutannya. Hal semacam 'ketidakpastian' ini pun sering disebut dalam sisi ilmiah seperti Teori Fisika Quantum pada hukumnya yang ketiga yang menyebutkan bahwa dalam dunia quantum berlaku hukum ketidakpastian (uncertainty principle). Ilmu pasti aja ada gak pastinya, apalagi hidup kita yang berleha-leha gak pasti ini. Hahahahaa =D

Justru di sinilah menariknya 'ketidakpastian' itu. Mungkin beberapa dari kita sering banget dengar teori hukum tarik-menarik dalam alam semesta "apa yang terjadi dalam kehidupan ini adalah akibat gelombang-gelombang yang dipancarkan dari otak kita ke lingkungan sekitar dengan frekuensi tertentu, sehingga ketika kita menginginkan sesuatu, sesuatu tersebut akan menangkap gelombang yang dipancarkan oleh otak kita karena memiliki frekuensi yang sama lalu terkoneksi, saling tarik-menarik dan akhirnya kita akan mendapat apa yang kita inginkan itu."
Pengertian ini juga ada dalam hukum fisika, contohnya lagi dari Fisika Quantum di hukum kedua yang menyatakan bahwa tingkah laku partikel yang berubah-ubah dari benda padat menjadi getaran vibrasi dan sebaliknya tergantung dari 'niat' penelitinya. See, niat. It means that everything depend on us. Teori ini emang benar (menurutku), kedengeran 'pasti' dan asik banget, tapi kalau dirunut lagi darimana datangnya gelombang-gelombang itu, partikel dan segala vibrasinya itu dan siapa yang menciptakan?
Di sinilah ilmu pengetahuan membutuhkan iman, TUHAN.

Dalam segala sisi kehidupan, ketika kita menemui sebuah ketidakpastian, terkadang ilmu pengetahuan gak bisa menjelaskannya. Dan sesuatu yang gak bisa dijelaskan itulah yang justru bersifat mutlak dan bisa mengubah semuanya di luar jangka pikir manusia. That is GOD's will, kehendak TUHAN - Sang Pencipta alam semesta. Seringkali saat kita berada di ketidakpastian hidup, kita gegabah melakukan ini itu, gampang terbawa suasana, gampang ikut arus yang belum tentu baik buat kita, asal ikut emosi aja gak pake tenang. Padahal saat kita terdiam merenung di bawah kaki TUHAN, saat itulah TUHAN akan menjawab apa yang kita tanyakan, dari gak pasti menjadi pasti. So, hidup dekat dengan TUHAN adalah jawaban terbaik untuk mengatasi segala ketidakpastian, karena dengan hidup dekat DIA, kita akan mengerti apa yang diinginkanNya untuk hidup kita.

Seorang bernama Simone Weil berkata "Bukan urusan saya untuk memikirkan diri saya sendiri, urusan saya adalah untuk memikirkan TUHAN dan urusanNya lah untuk memikirkan saya." Do the best for GOD and GOD do the rest.

Dan dalam setiap masa, gak ada segala sesuatu yang dipertemukan cuma karena kebetulan. Everything is under GOD's control. TUHAN bisa pake banyak cara untuk menolong kita, membebaskan kita dari ketidakpastian hidup. TUHAN bisa pake siapa aja. Kita mungkin gak pernah tau seberapa berharga hidup kita di balik segala kesusahan. Dari sebuah pertemuan kecil, akan lahir sesuatu yang besar. Atau sesuatu yang besar terjadi hanya untuk sesuatu yang tampaknya kecil tapi itu sangat berarti?

Berasa seringkali gak menghargai waktu, gak peduli sama kehidupan orang lain. Sampai akhirnya tersadar bahwa sesungguhnya setiap waktu yang diberikan adalah berharga. Mungkin buat kita itu biasa aja, tapi buat orang lain bisa jadi itu suatu jawaban yang sangat berharga dari apa yang dicarinya. Give the best as much as you can. Bayangkan kamu sedang membutuhkan jawaban dan betapa senangnya saat kamu menemukan jawaban itu lewat kehidupan orang lain. Kapan lagi hidup kita bisa menjadi berkat buat banyak orang?

Dalam sebuah rangkaian perjalanan solo (asik, bahasanya 'solo'- sendirian gitu maksudnya), sebuah perjalanan kecil yang aku lakukan, perjalanan yang mainstream aja mungkin buat orang lain, perjalanan menggapai cita-cita (agak kedengeran alay juga) justru di dalam hal-hal yang kecil itulah ada banyak hal berharga yang aku dapatkan. 

Di akhir perjalanan, muncul sebuah kesimpulan, bahwa sesungguhnya saat kita sedang sendiri, kita tidak pernah benar-benar sendiri. Justru di situlah kita akan menemukan bagaimana TUHAN mewarnai hari-hari kita bertemu dengan pribadi yang berbeda-beda. Pribadi-pribadi yang penuh dengan senyuman, semangat, tawa, masalah hidup, kesedihan, dan tangis. Pribadi-pribadi yang melupakan masalahnya cuma untuk menyambutmu. Pribadi-pribadi yang hadir saat kamu bilang "aku sendirian, broh", "ini gimana ya? aku bingung" dan menyediakan hidupnya untuk menemani kamu melepas ketidakpastian hidup. Pribadi-pribadi yang begitu diberkati TUHAN.

Pribadi-pribadi yang menyadarkan, apalah artinya sebuah derita kalau semua itu juga akan berlalu =) 

Dan pada akhirnya, hidup itu bukan sekedar mengejar ilmu, mencari pekerjaan, mencari kesuksesan, mendapatkan gaya hidup yang nyaman, mengejar ketenaran, meningkatkan gengsi, ngomongin cinta, mengejar target, karena itu semua bisa hilang dalam hitungan detik. Tapi hidup yang sesungguhnya itu adalah bagaimana kita memaknai kehidupan itu sendiri.

Dunia ilmiah termasuk fisika quantum sebenarnya menjelaskan bahwa di tengah segala kepastian ilmu-ilmu yang tercipta, hidup ini juga penuh ketidakpastian, penuh kekacauan. Hanya satu yang bisa menyelamatkan, iman pada TUHAN. Dan di sinilah TUHAN bekerja secara mutlak dalam kehidupan mengubah hal yang gak pasti menjadi sangat pasti.

"A science which doesn't bring us nearer to GOD is worthless."

Exploring the space and time.
The new dimension has begin.
Masa depan itu sungguh ada dan pengharapan tidak akan pernah hilang.

Sabtu, 09 November 2013

Pelajaran dari Ampul Mikroba


Di dunia perkuliahan anak-anak teknologi pangan pasti udah gak asing lagi sama yang namanya mikroba. Makhluk kecil nan unyu-unyu ini memiliki efek luar biasa buat dunia. Di tempat penelitianku, mikroba-mikroba disimpan dalam bentuk kering (serbuk) dalam sebuah wadah kaca bernama ampul. Tiap kali mau pake mikroba itu, kita harus pecahkan wadah kacanya pada posisi yang tepat dan gak sembarangan sehingga si mikroba bisa kita taburkan ke media fermentasinya, istilahnya… inokulasi.

One day, aku harus pake mikrobaku dan aku gak bisa caranya mecahin ampul (kacanya lebih tebal dan diameternya lebih besar dari ampul-ampul lainnya). Yang bisa mecahin ampul mikrobaku cuma satu orang laboran, dan dia lagi gak ada. Ceritanya, lagi gak ada laboran sama sekali di lab, lagi rapat lamaa. Sebelumnya aku cuma dikasi liat teknik mecahin ampul itu. Lalu, dengan terpaksa, kupraktekkan.


Ampul mikroba yg udah disayat-sayat buat pecahinnya

Aku harus bikin satu garis melingkar di ampul itu pake alat pemotong kaca ampul. Garisnya harus tepat di bagian atas leher ampul. Lima belas menit berlalu dan aku udah bikin tiga pola garis (*alay). Tibalah saatnya aku mematahkan ampul itu pas di bagian pola garis yang aku buat (yang garis terakhir).

Lima menit berikutnya aku coba matahin ampul, hasilnya, nihil. Ampulnya gak bisa patah. Aku coba di pola garis kedua, juga gak bisa. Sambil desperate, akhirnya aku coba di garis pertama yang aku buat tadi. Tiba-tiba… jekleeekk!! Berantakan pemirsaa… Ampulnya emang patah, tapi serbuk mikrobanya langsung berceceran semburat, di luar Laminar Air Flow-meja gak aseptis lagi. Kontaminasi.

Akhirnya aku ambil ampul mikroba yang baru dan bikin garis melingkar lagi buat matahinnya. Kali ini dengan penuh penghayatan, lebih dari lima menit bikin garisnya. Bersiap di dalam Laminar Air Flow-meja kerja yang steril dan aman, aku patahkan pas di pola garisnya.

Dan gak bisa.

Semakin putus asa saja, bung.

Tapi ini harus dipatahkan, supaya aku bisa ngelanjutin penelitianku sekarang juga.



*hening* Apa yang salah?




Pola garis sudah tepat. Ampulnya nakal. Atau mungkin tekniknya.
Ya, tekniknya: kerjakan dengan hati, santai, tapi bertekun dalam doa.
Setelah dilakukan teknik seperti itu.. ampulnya beneran patah. Hallelluya! Alhamdulilah.. Puji Tuhan!

Tapi dia gak patah pas di garisnya. Sedikit di luar garisnya, setengah sentimeter di atasnya persis. Dan dipatahkan dengan mudahnya.

Terkadang kita terlalu asik dengan dunia kita sendiri. Sibuk mengejar cita-cita atau keinginan kita. Ketika keinginan itu susah tercapai kita seringkali merasa sebel, capek, putus asa, dan menyalahkan keadaan tapi lupa melihat diri sendiri, malah merasa kalo diri kita ini udah bener. Termenung. Hening. Galau. Lalu lupa bahwa ada kuasa yang bernaung di atas kita, kuasa Tuhan yang berkuasa atas segalanya, termasuk pergumulan kita. 

Bagaimanapun kondisinya, mengingat Tuhan adalah salah satu hal wajib. Menggariskan kehidupan juga gak bisa sembarangan semau kita. Pertolongan dan hikmat dari Tuhan itu penting banget dalam segala hal yang kita kerjakan. Kita kadang gak mengerti mengapa Tuhan mengijinkan sesuatu terjadi baik itu buruk ataupun baik. Malah kadang kita gak bisa menelaahnya dengan logika kita.

Walau apapun yang terjadi di sekeliling kita gak bisa kita pahami, mungkin saat itu memang tidak dimaksudkan untuk dimengerti oleh kita. Atau mungkin tidak sekarang kita dapat mengerti segala sesuatunya. Tapi Tuhan memberikan janji pada kita, bahwa apapun yang dirancang-Nya untuk kita, akan indah pada waktunya.

Out of The Box : Upgrade Zona Nyaman Brooh!


Postingan kali ini kita akan membahas tentang salah satu tokoh di Alkitab yang "out of the box." Lain dari yang lain.

Kalo di Alkitab, ada cerita tentang "Yesus berjalan di atas air" di Injil Matius 14 : 22-22. Intinya bercerita tentang kuasa Yesus yang mengatasi alam, termasuk berjalan di atas air danau Galilea yang lagi bergelombang karena angin sakal (semacam angin kenceng banget peccaahh badhaayy membahana hooaarrgghh hooaarrgghh~ *maaf alay) dan juga bercerita tentang imannya seorang murid yang goyah (Petrus) yang saat itu serombongan dengan murid-murid Yesus yang lain yang terjebak dalam perahu di tengah angin sakal dan si Petrus ini mencoba mendekati Yesus dengan berjalan di atas air terus di tengah jalan dia ketakutan dan akhirnya tenggelam. Tapi ditolong Tuhan Yesus sih jadi si Petrus gak jadi tenggelam. Dan begitulah inti khotbah yang sering aku dengarkan.

Oke laah di cerita ini Petrus dianggap sebagai contoh manusia yang imannya goyah karena ketakutan menghadapi badai kehidupan yang menerpanya. Kita sebagai manusia tidak boleh takut menghadapi badai kehidupan dan bla bla bla....
Let us see.. Petrus lagi bebarengan sama murid-murid Yesus yang lain. Petrus keluar dari perahu melangkah menuju Yesus. Pertanyannya :

Kemanakah murid Yesus yang lainnya?
Kenapa yang melangkah keluar perahu hanya Petrus?

Hmm...

Murid-murid Yesus yang lainnya memilih berdiam di dalam perahu karena merasa di dalam perahu udah aman, gak kena badai angin sakal itu, yaa.. di perahu aja lah.. gak perlu aku menghadang badai. Pikiran manusia yang wajar dan mainstream. Seumpama saat itu aku ada di sana mungkin melakukan hal yang sama.
Emang sih.. siapa yang gak mau hidupnya aman terus... ada di zona nyaman emang menyenangkan. Amaann... tenang..
Hidup ini untuk cari kenyamanan. Zona nyaman emang enak. Ngapain susah-susah ditinggalkan? Hidup ini udah susah.. Hehehehe... 

Di sisi lain coba lihat si Petrus. Petrus berseru "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air."
Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.
Petrus memilih untuk keluar perahu menuju Yesus. Dia berjalan menghadapi angin sakal itu dan Tuhan Yesus membuatnya dapat berjalan di atas air, sebuah pengalaman yang tidak didapatkan murid-murid Yesus lainnya dan kesempatan itu hanya datang sekali.

Petrus tidak menghiraukan angin sakal itu, yang dia inginkan hanya mencoba untuk keluar, pikirannya tidak terpusat pada masalah badai yang dihadapinya saat itu, tapi dia mencoba berpikir di luar zona nyamannya saat itu... bagaimana keadaan di luar perahu. Bukan berarti dia tidak suka dengan zona nyamannya, tapi secara tidak langsung dia sedang "memperluas zona nyaman"nya walaupun ada resiko tinggi ketika sedang berusaha untuk memperluasnya.

Setidaknya Petrus sudah berani untuk melangkah keluar dan dia memiliki pengalaman baru yang mungkin tidak terpikirkan oleh murid-murid Yesus lainnya. Ya... dia pernah melakukan hal yang mustahil di saat keadaan sekitarnya tidak mendukung sama sekali, di saat badai datang menerpanya. Sedangkan yang di dalam perahu hanya menyaksikan saja tanpa mengalami sendiri hebatnya kuasa Tuhan yang sanggup menjaga dan menolong Petrus yang sempat tenggelam. Zona nyaman murid-murid Yesus saat itu sebatas perahu saja. Sedangkan Petrus memiliki perluasan zona nyaman yang baru, zona di luar perahu, zona dimana dia merasakan bagaimana Tangan Tuhan tetap menjaganya, menolongnya, membuat hidupnya tetap aman di kondisi genting sekalipun.

Petrus merupakan salah satu tokoh yang berpikiran "out of the box". Dia berusaha berpikir di luar paradigma yang biasanya dipakai kebanyakan orang. Kita sebagai anak muda, marilah jadi Petrus Petrus modern! (*kayak bener aja hidup gue! xD).


Sama halnya kalo kita-kita ada pergumulan hidup, berani melangkah maju merupakan solusi yang kedengaran lebih mengasyikkan daripada diam saja doing nothing. Sounds great, bung... Gagal itu bisa saja terjadi. Kalo dalam melakukan segala sesuatu ada kemungkinan gagalnya, kenapa gak dilakukan saja, toh gagal hal yang biasa, tapi gimana kalo berhasil. Betapa senangnya kita. Hahahahaa :D

Zona nyaman terlalu muna untuk ditinggalkan. Tapi perluaslah selalu zona nyaman itu. Upgrade broh! Upgrade zona nyaman lo... Mana tau zona nyaman kita digerogoti sama peliknya dunia ini, maka dari itu harus selalu diupgrade biar penuh sukacita hidup kita. Sebelum digerogoti mari kita upgrade penuh semangat. Lagian kalo zona nyamannya segitu-segitu aja flat banget rasanya, gak merasakan keep on fire di dalam Tuhan, gak bisa berbagi berkat-berkat baru buat sekitar kita. Nah, untuk memperluas zona nyaman ada 3 hal penting yang dibutuhkan:
1. Keberanian
2. Sudut pandang yang luas
3. Hikmat dari Tuhan

Memperluas zona nyaman emang butuh perjuangan, seperti apa yang dilakukan Petrus dalam cerita di atas. Tapi justru di situ lah kita akan selalu mengalami pembaharuan hidup di dalam Tuhan. Hidup yang gak hanya buat senang-senang sendiri tapi menebarkan cerita-cerita hebatnya Tuhan, keselamatan yang Dia berikan, dan berkat-berkatNya buat dunia sekitar kita.

Be yourself. Be brave. Think out of the box.
GOD bless you :)

Senin, 01 Juli 2013

It is not about the church.

Berawal dari sebuah ke'kepo'an. Kepo tidak selalu berujung pada hal-hal yg negatif, tapi bisa dijadikan pelajaran yg berharga. Jangan salahkan kepo, karena kepo adalah salah satu bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Hehehehe :D
Termasuk aku yang kepo sama gereja-gereja di Indonesia. Ada banyak gereja dengan nama yang berbeda-beda. Gereja Protestan, Katolik, Ortodoks, de el el. Di gereja Protestan pun masih ada banyak lagi di dalamnya, mulai dari Lutheran, Calvinis atau Gereja Reformasi, Methodist, Pentakostal, Kharismatik, Advent, dan lain sebagainya. Di dalam gereja-gereja itu juga ada gereja yang bersifat kesukuan atau kedaerahan tertentu.

Sering kepikiran, apa bedanya gereja-gereja ini? Kenapa beda-beda? Emang ada sih teorinya pas pelajaran agama dulu di sekolah. Realitanya?
And I ask this question to GOD.


Sampai suatu saat Tuhan menempatkanku di sebuah kota.

Merantau ke Tangerang Selatan, aku berkelana cari gereja. Kadang pas liburan aku juga ke Bogor dan ibadah di sana. Gereja di daerah sini emang ga sebanyak di Jawa Timur. Apalagi kalo masih awam sama kota baru ini, jadi pas nyarinya strugglenya harus lebih besar. Akhirnya gereja-gereja ini ketemu juga.
Mulai dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Serpong, Abbalove Ministries Serpong, Gereja Bethel Indonesia (GBI) Glow BSD, Gereja Bethel Indonesia (GBI) Basilea Christ Cathedral Serpong, Gereja Tiberias Indonesia (GTI) Serpong, Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) Betlehem Bogor, sampai Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Bogor sama Greja Batak Karo Protestan (GBKP) Bogor yang notabene HKBP sama GBKP ini punya bahasa daerah yg beda sama aku. Ataupun ke gereja Katolik di Gereja Santa Monika Serpong.
Semua ini atas sepengetahuan orangtua :D  Selagi masih muda gitu kan, biar tau dunia ini.

Jadi, apa lah yang aku dapatkan dari perjalanan ini?
Ya, memang nama gerejanya beda-beda. Yang khotbah juga beda. Liturgi ibadahnya, beda. Jemaatnya beda. Bahasanya pun beda. Bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Jawa, bahasa Mandarin, bahasa Batak, bahasa Karo. Beda.

Tapi aku merasakan yang sama.
Tiga hal utama yang aku dapatkan: semua gereja bersaksi tentang kebenaran Firman Allah yang sama, tentang kasih dan rasa damai yang sama.

Aku cuma manusia biasa aja sih, yang hidupnya ga alim atau ketuhanan banget. Sama seperti manusia pada umumnya. Tapi setidaknya ada satu hikmah yang aku dapatkan dari sini:
Ibadah gereja bukan sekedar kedatangan, duduk diam mendengarkan Firman Tuhan, nyanyi sorak-sorai memuji Tuhan, atau jadi pelayan di depan ataupun belakang mimbar. It is not about the church. Tapi soal hati kita pribadi kepada Tuhan dan kesatuan hati jemaat.

Seorang bijak pernah bilang ke aku "Tidak penting kamu di gereja mana, atau siapa yang khotbah. Tapi bagaimana hatimu fokus pada Tuhan. Dan kamu akan merasakan kehadiratNya."
Seorang nenek dari Tanah Karo bilang "Tidak apa-apa. Mau kamu orang Jawa atau orang Karo. Tuhan kita satu. Kita semua sama di mata Tuhan."
Papa sering nyanyi "Ku tak pandang dari greja manaa.. asal kau berdiri atas FirmanNya... kalau hatimu sperti hatiku.. kau saudara dan saudariku..." :D

Banyaknya 'nama-nama' gereja ini bikin aku menyadari bahwa ada banyak manusia yang menyembah Tuhan dengan hati yang diciptakan begitu berbeda dan unik dari Tuhan. Merasa aku udah hidup di gereja paling benar dan sempurna? Hahahaa...

Agama ataupun gereja bukan tempat berkumpulnya fans terus fanatik gitu dengan ideologi tertentu. Bukan juga tempat berkeluh kesah doang dan melepas kesepian. Sekali lagi, ini soal hati kepada Tuhan, bukan memandang apa yang dipandang dunia.

Dan dengan perbedaan-perbedaan yang ada inilah kita saling menghargai, melengkapi, memberikan puji-pujian terbaik bagi Tuhan.

Kenapa Tuhan menciptakan kita berbeda-beda? Tujuannya untuk saling melengkapi dan tetap rendah hati, supaya manusia ga lupa sama Tuhan Penciptanya dan hidup selaras penuh damai.

Semua itu tentang bagaimana cara hati kita menyembah Tuhan. Bukan tentang memandang golongan siapa kamu. Think again.

"..... Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi? Karena jika yang seorang berkata: "Aku dari golongan Paulus," dan yang lain berkata: "Aku dari golongan Apolos," bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani?  Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri. Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah. Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus." [1 Korintus 3: 3-11]

Buatku, itu sudah cukup menjadi jawaban dari semua pertanyaanku. Thank You, Lord.